NEWS

Apa itu jaringan kampus bebas plagiarisme

400 Views
1 year a go


Picture by Lance Anderson and downloaded from Unsplash.com

Pada suatu siang hari yang terik, sebut mahasiswa dengan nama samaran A, sedang kebingungan mencari ide untuk penulisan tugas akhir atau skripsinya. Mahasiswa A ini adalah tipe mahasiswa yang tidak mau repot dalam mengerjakan berbagai hal. Pola mau nya instan tersebut ternyata juga ingin diterapkan dalam hal pengerjaan tugas skripsinya.

Mahasiswa A ini kemudian mencoba mencari melalui google dan menemukan berbagai situs daring yang dapat memenuhi keinginannya. Mulai dari jasa pengerjaan skripsi yang memiliki garansi uang kembali jika tidak lulus sidang pendadaran, hingga layanan penyediaan skripsi yang sudah ada dan dinyatakan lulus dari kampus lain.

Mahasiswa ini kemudian sebelum memilih mana jasa instan yang ingin digunakan, dia mencoba mencari tahu apakah di kampusnya ada aplikasi anti plagiarisme. Dan pucuk dicinta ulam tiba, ternyata kampus di mana mahasiswa A mengenyam studi ini belum sama sekali menerapkan prosedur pendeteksi plagiarisme. Kemudian mahasiswa A ini segera membeli database skripsi yang ada di media daring dan memilih judul yang sekiranya paling keren. Setelah memilih dan mendapatkan judul tersebut, mahasiswa A segera mengganti halaman depan dari skripsi tersebut dan mencantumkan nama dia. Toh kampus dia mengembang studi memang tidak memiliki prosedur pendeteksi plagiarisme sama sekali jadi dengan mudah nya mahasiswa ini lulus dan segera bisa mendapatkan ijazah yang diinginkannya.

Saat mahasiswa ini mulai masuk ke dunia kerja, si pewawancara mulai bertanya banyak hal terkait background mahasiswa A ini tadi. Termasuk diminta menceritakan proses dia mengerjakan skripsi nya. Ternyata mahasiswa A tidak bisa banyak bercerita, toh skripsi dia tadi hanya jiplakan dari skripsi yang sudah ada dari kampus lain.

Cerita tentang mahasiswa A tadi memang fiksi, namun meksi demikian, kami yakin banyak sekali kejadian seperti mahasiswa A ini di kampus kampus di Indonesia. Karena memang hampir 95 % kampus di Indonesia belum memiliki prosedur pendeteksi plagiarisme. Isu plagiarisme pun mulai hangat diperbincangkan hanya karena isu ini menyentuh wilayah rawan yaitu ranah politik praktis. Sehingga memang ada yang menggunakan isu plagiarisme untuk menyerang kubu yang tidak disukainya.

Saat ini usaha dalam menangkal plagiarisme tidak lain hanya kembali kepada niat baik siswa dan segenap civitas akademika yang ada di kampus tersebut. Karena memang kalau mahasiswa memplagiat suatu skripsi dari kampus lain, maka tidak ada prosedur yang dapat mendeteksi nya.

Mayoritas kampus di Indonesia sendiri belum terbuka terhadap isu ini. Padahal naskah skripsi yang diperjual belikan di Internet jumlah nya ratusan ribu.

Tulisan di atas ini mengajak para kampus kampus untuk mulai berpartisipasi dalam menciptakan sebuah gerakan bersama dalam memberantas plagiasi. Bisa dari mulai membuka akses data riset kampusnya sehingga memudahkan civitas akademika dari kampus lain untuk cross check sebuah plagiasi. Langkah tersebut memang masih sangat sederhana. Namun sebenarnya ada langkah yang lebih mujarab. Yaitu menciptakan sebuah database terintegrasi semua riset dan data penelitian termasuk skripsi dari seluruh kampus di Indonesia.

Memang perjuangan masih sangat panjang dalam mewujudkan cita cita ini. Namun tidak ada salahnya kan bermimpi seluruh data skripsi kampus di Indonesia ini terintegrasi. Banyak manfaat yang bisa didapatkan, di antaranya tidak ada lagi skripsi yang memiliki judul sama, dan banyak riset riset baru yang bisa dikembangkan.

Terakhir dengan makin banyak nya riset yang dilakukan, maka kita yakin jumlah riset dan artikel layak terbit di Jurnal akan makin banyak di Indonesia.

Amiin!!


comments powered by Disqus